Rabu, 26 September 2018

Mengenal Karya Usmar Ismail yang Melegenda

  • Rosiana
  • 20/03/2018 10:24 WIB
Mengenal Karya Usmar Ismail yang Melegenda
EPIZONE.ID - Google Doodle hari ini menampilkan sosok Bapak Film Nasional. Yap buat kamu yang ngakunya pecinta seni dan film Indonesia pastinya akrab dengan nama satu ini. Usmar Ismail yang lahir di Bukittinggi 97 tahun silam merupakan seorang sutradara terkemuka di era dekade 60 dan 70-an. Ia juga dianggap sebagai salah satu orang penting yang memelopori industri film Nasional.

Sepanjang hidupnya ia telah menghasilkan lebih dari 30 film. Bersama dengan studio film miliknya yang diberi nama Perfini, Usmar Ismail berhasilkan menelurkan karya klasik yang dikenang banyak masyarakat Indonesia hingga kini. Sebut saja film Darah dan Doa (The Long March of Siliwangi) yang diproduksi tahun 1950, menjadi film pertama Indonesia sejak negara ini berdaulat.

Film Darah dan Doa merupakan film fenomenal dan adaptasi dari cerita pendek karya Sitor Situmorang. Film ini sendiri menceritakan tentang perjuangan Sudarto, seorang guru yang terseret revolusi fisik TNI. Film ini bahka menjadi tonggak awal dimulainya industri perfilman Tanah Air. Berkat Darah dan Doa, Presiden B.J Habibie pun akhirnya menjadikan hari pembuatan film ini menjadi Hari Film Nasional. 

Film Darah dan Doa karya Usmar Ismail
Film
Darah dan Doa via Wikimedia


Baca Juga : Gak Cuma Ngayal, 6 FIlm Fiksi Ilmiah Ini Juga Punya Dasar Teori Nyata

Lalu ada film Lewat Djam Malam yang diproduksi tahun 1955 yang memiliki alur cerita dan sinematografi yang menarik. Lewat Djam Malam menceritakan tentang kehidupan pejuang setelah Indonesia Merdeka. Film ini akhirnya diganjar dengan penghargaan FFI tpada tahun 1955.
Saking fenomenalnya, film ini akhirnya tanggal 18 Juni 2012 setelah melalui restorasi di Laboratorium L'Immagine Ritrovata, Bologna, Italia dan bekerjasama dengan National Museum of Singapore (NMS) dan World Cinema Foundation.

Melansir dari laman Wikipedia, proses restorasi film ini berlangsung selama beberapa bulan dari Agustus 2011 hingga beberapa bulan sebelum pemutaran pada tahun 2012. Menariknya, Lewat Djam Malam juga diputar kembali pada pembukaan sub-festival Cannes Clasic dalam ajang Festival de Cannes 2012 di Cannes, Prancis.

Enam Djam di Djogja karya Usmar Ismail
Film
Enam Djam di Djogja via Wikimedia

Baca Juga : 6 Kisah yang Menginspirasi Pembuatan Film Horor Hollywood

Tak berhenti sampai disitu Usmar Ismail juga terus memproduksi beberapa film klasik yang masih dikenang hingga kini seperti Enam Djam di Djogja (1951) yang menceritakan perjuangan dalam merebut dan menduduki kota Yogyakarta walau hanya selama enam jam. Peristiwa yang dikenal dengan Serangan Umum Satu Maret tersebut tururt menginspirasi Usmar Ismail dalam berkarya. 

Seperti banyak film dengan latar waktu sejarah lainnya, Film Enam Djam di Djogja juga menceritakan perjuangan rakyat secara fiktif. Meski didasarkan pada kejadian nyata, namun karen pencatatan sejarah dan dokumen sejarah yang ada belum lengkap, maka Usmar Ismail mencoba bercerita mengenai sisi perjuangan rakyat tanpa menyinggung banyak pihak. 

Film lain yang menjadi salah satu film klasik Indonesia adalah Pedjuang yang diproduksi tahun 1960. Fillm yang jugga menceritakan tentang perjuangan selama agresi militer Belanda ini menjadi salah satu masterpiece karya Usmar Ismail. Tak hanya film berbau perjuangan, Usmar Ismail ternyata juga piawai dalam memproduksi film romansa. Sebut saja film Tiga Dara (1956) sebuah film drama musikal yang berkisah tetang kehidupan asmara tiga perempuan bersaudara. Film ini akhirnya juga direstorasi dan dan dikonversi dalam bentuk digital 4K oleh Laboratorium L'immagine Ritrovata dan tayang di bioskop pada bulan Agustus 2016.

Tiga Dara karya Usmar Ismail
Film musikal Tiga Dara via Ultimagz


Sekilas tentang Usmar Ismail

Google Doodle Usmar Ismail
Google Doodle Usmar Ismail

Perjalanan karir Usmar Ismail rupanya berawal dari upayanya untuk menuntut ilmu di negeri Paman Sam. Ia pernah menempuh pendidikan di Universitas California, Los Angeles dan mendapatkan gelar BA di bidang sinematografi pada tahun 1952. Ketika masa pendudukan jepang ia bersama dengan beberapa rekannya tergabung ke dalam Pusat Kebudayaan. Pada masa itu pula ia mendirikan dan menjadi ketua Sandiwara Penggemar "Maya". Ia juga pernah bergabung menjadi anggota TNI ketika Belanda datang kembal setelah penajahan Jepang. 

Selain aktif dalam pembuatan film, Usmar Ismail juga turut mendirikan Perusahaan Perfilman Nasional bersama dengan Djamaludin Malik dan para pengusaha film lainnya. Ia juga yang memprakarsai berdirinya Akademi Teater Nasional (ATNI) pada tahun 1955, dan menjadi lembaga kesenian pertama di Jakarta.

Usmar Ismail meninggal pada tanggal 2 Januari 1957 pada usia 49 tahun karena serangan stroke. Kini namanya diabadikan menjadi nama Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail di Jakarta. Selain itu, sebuah ruang konser juga diberi nama sesuai dengan namanya yakni Usmar Ismail Hall, yang kini menjadi tempat dilangsungkannya berbagai pertunjukan opera, musik, tari, dan teater. 

Baca Juga
Cerita Kehidupan Pengusaha Nyentrik Willy Wonka Akhirnya Akan Difilmkan
6 Kisah yang Menginspirasi Pembuatan Film Horor Hollywood
Inilah Kisah Inspiratif Halet Cambel, Wanita Muslim Pertama yang Ikut Olimpiade dan Hari Ini Jadi Google Doodle

  • Tags
Or use your account on Blog

Error message here!

Hide Error message here!

Forgot your password?

Or register your new account on Blog

Error message here!

Error message here!

Hide Error message here!

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link to create a new password.

Error message here!

Back to log-in

Close