Sabtu, 21 Juli 2018

Gimana Ya Rasanya Hidup di Gua Bawah Tanah???

  • Rosiana
  • 17/04/2018 12:56 WIB
Gimana Ya Rasanya Hidup di Gua Bawah Tanah???
EPIZONE.ID - Pernashkah kamu berpikir untuk tinggal di bawah tanah? Atau bagaimana rasanya berada di bawah tanah selam seharian penuh? Jika kamu penasaran, mungkin desa unik di Libya ini bisa menjadi salah satu alternatif liburan menarik untuk menuntaskan rasa penasaranmu. 

Di kawasan pegunungan Nefusa, Libya terdapat banyak lubang besar menganga di permukaan tanah yang menyerupai gua. Terletak sejauh 100 km di sebelah selatan ibukota Tripoli, lubang-lubang ini digunakan pemukiman warga desa Gharyan. Desa ini merupakan desa terbesar di kawasan Jabal Nefusa, dan dikenal sebagai kawasan gua bawah tanah terbaik yang pernah dijumpai.

Terbentuk dari batuan kapur dan napal, gua ini menjadi salah satu tempat tinggl paling unik yang pernah ditemui. Gua-gua di pegunungan ini disebut troglodyte atau gua yang ditempati manusia. Sebutan ini merujuk pada orang-orang yang tinggal di tempat itu.

Gua yang diubah menjadi pemukiman ini memiliki kedalaman 10 meter dari permukaan tanah. Uniknya setiap gua yang dbuat mampu menampung hingga delapan keluarga sekaligus. Setiap keluarga memiliki bagian rumahnya sendiri.

Baca Juga : Unik! Desa Kuno di Iran Ini Dibangun Diatas Atap

Awal Mula

Menurut penduduk yang tinggal, gua-gua tersebut sudah mulai dibangun sejak tahun 1666 oleh para pengungsi Yahudi, akibat dari invasi kerajaan Spanyol ke Tripoli. Di tempat inilah, para pengungsi tersebut mulai membangun rumah-rumah yang kemudian digali secara vertikal ke dalam dan secara horisontal untuk membentuk ruang yang lebih luas.

Rumah gua bawah tanah

Para penduduk hingga saat ini masih menggantungkan hidupnya dengan beternak. Para wanita biasanya setiap pagi pergi ke hutan untuk mengambil air. Sedangkan para pria akan memeriksa hewan ternak mereka.

Satu buah rumah di gua ini memiliki minimal tiga ruangan, satu sebagai kamar tidur orang tua, satu difungsikan sebagai kamar tidur anak-anak, sedangkan kamar lainnya digunakan sebagai ruang keluarga.

Ada yang menarik dari rumah gua bawah tanah ini, yaitu pintu rumah yang terbuat dari kayu pohon zaitun. Menurut penduduk, kayu pohon ini berfungsi untuk membuat rumah tetap hangat selama musim dingin, dan sejuk saat hawa panas melanda.

Rumah gua bawah tanah ini diwariskan turun-temurun sehingga masih terjaga keasliannya selama beberapa abad kemudian. Baru pada tahun 50-an banyak keluarga yang mulai meninggalkan kawasan. Penduduk asli pegunungan yang merupakan pengungsi Yahudi banyak yang lebih memilih meninggalkan Gharyan untuk bergabung dengan negara Israel.

Seiring dengan perkembangan masyarakat yang mulai modern, rumah gua bawah tanah ini sudah mulai ditinggalkan penduduknya. Sebagian lagi memilih untuk tetap bertahan untuk menjaga keleastarian tradisi nenek moyang. Gua-gua yang ditinggalkan akhirnya menyisakan lubang-lubang kosong di permukaan bumi.

Rumah gua bawah tanah

Gua-gua yang kosong ini akhirnya difungsikan lagi sebagai tempat perlindungan selama perang saudara Libya pada tahun 2011. Dimana ruangan-ruangan kosongnya banyak digunakan sebagai tempat penyimpanan barang dan makanan selama perang berlangsung. 

Baca Juga : Kisah Monowi, Kota Terkecil dan Hanya Dihuni Oleh Satu Orang

Tempat Wisata

Kini selepas perang berakhir, gua-gua di area ini mulai digunakan sebagai salah satu tempat wisata unik di Libya. Bahkan salah satu gua kini mulai dibuka difungsikan sebagai hotel untuk menarik lebih banyak turis mancanegara. 

Selain di pegunungan Nafusa, gua bawah tanah ini juga banyak ditemukan di desa-desa lain sekitar daerah pegunungan dan juga di Tunisia. Penduduk di Matmata, Tunisia juga memmiliki rumah gua bawah tanah ini. Namun sayang, kondisi di Tunisia tak sebaik di Libya. Rumah-rumah bawah tanah ini hampir kosong karena ditinggal pemiliknya.

Penduduk di desa ini lebih menggantungkan hidup pada pertanian dan pariwisata yang mulai gencar dipromosikan. Matmata mulai terkenal setelah menjadi salah satu tempat syuting film Star Wars pada tahun 1970. Sejak saat itu, pariwisata di tempat ini mengalami peningkatan. 

Namun peningkatan sektor pariwisata ternyata tidak dibarengi dengan meningkatkan taraf hidup penduduk Matmata. Banyak dari mereka yang memilih meninggalkan tempat ini untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Kini Matmata hanya menyisakan beberapa keluarga yang masih tetap bertahan di tempat legendaris ini.

Rumah gua bawah tanah
Pemandangan sebuah keluarga yang tinggal di troglodyte, Tunisia



Ilustrasi : The Atlantic, Skift, Reuters

Baca Juga
Jangan Ke Singapura Kalau Belum Tau 18 Peraturan Penting Ini
4 Pulau Asing dan Berbahaya yang Sebaiknya Tak Dikunjungi
Lebih Panas dari Jakarta, Inilah Daftar 10 Kota Terpanas di Dunia

  • Tags
Or use your account on Blog

Error message here!

Hide Error message here!

Forgot your password?

Or register your new account on Blog

Error message here!

Error message here!

Hide Error message here!

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link to create a new password.

Error message here!

Back to log-in

Close